Cerita Sex Pelayan Nafsu Istri Bos

jandabohay.com Adalah Website Yang Memberikan Sajian Cerita Dewasa, Cerita Sex Janda, Cerita Sex Terbaru, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex 2016, Foto Bugil Janda, Foto Sex Model, Foto Telanjang ABG, Foto Mesum Tante || Cerita Sex Pelayan Nafsu Istri Bos

Namaku Raka. Aku tinggal di kota jogja. Ceritaku ini terjadi pd tahun 2009. Pd waktu itu aku masih kuliah di sebuah PTN terkenal di jogja. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang baru berdiri. Waktu itu aku bekerja sebagai kru produksi.

Pekerjaannya sangat sederhana yaitu merekam lagu, membuat iklan radio, dan mempersiapkan segala hal yang sifatnya off-air. Pemilik radio itu namanya Bpk Damian. Dia mempunyai istri yang sangat cantik. Aku biasa menyebutnya dengan Ibu Ajeng. Cerita Sex

Cerita Sex Ngentot Pelayan Nafsu Istri Bos

Cerita Sex Selingkuh, Cerita Sex HOT, Cerita Mesum HOT, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex Ngentot


Ibu Ajeng tingginya kira-kira 170cm, bahkan lebih tinggi dari suaminya. Ibu Ajeng bekerja di sebuah perusahaan swasta di jogja. Sejak pertama kali masuk kerja di radio itu, aku udah kepincut dengan Ibu Ajeng.

Ibu Ajeng ini berparas sangat cantik, mungkin sensual. Tinggi kira-kira 168cm, berat 55kg. Payudaranya tidak besar, sama sekali tidak besar. Tapi justru payudaranya yang kecil itu yang membuatku sangat penasaran. Aku selalu terobsesi dengan payudara yang kecil.

Ibu Ajeng suka memakai pakaian yang seksi. Baju-bajunya selalu tanpa lengan dan sering memakai rok yang sedikit di atas lutut. Pernah suatu ketika, aku sedang santai di kantor karena tidak ada order pembuatan iklan. Aku hanya duduk di balik meja marketing. Ibu Ajeng baru pulang dari kantornya. Aku perhatikan beliau turun dr mobil dan ketika melintas di dekatku, Cerita Mesum

"Selamat siang, Bu. Jam segini kok udah pulang Bu?", sapaku.

Ibu Ajeng tersenyum.

"Iya Mas. Ini mau nganter Bpk ke Bandara."

Aku seketika merasa senang. Terus terang, aku ga suka ama bosku. Bawaannya cerewet mulu. Tapi aku mencoba bersikap biasa aja.

"Oh, rapat lagi ya bu di Jakarta?", tanyaku asal-asalan.

"Iya, Mas. Mau nyelesein urusan frekuensi katanya." Ibu Ajeng menjawab sambil berlalu dengan meninggalkan senyum yang sangat manis.

Tak berapa lama, Pak Damian dan Ibu Ajeng keluar dari rumah membawa beberapa koper.

"Mas, nanti malam jangan lupa matiin pemancarnya ya.", pesan Pak Damian pdku. "Siap Pak", jawabku sambil berlagak kayak prajurit.

"Hati2 pak", sambungku lagi. Setelah beliau berdua pergi, aku masuk lagi ke ruang operator untuk ngecek properti. Iseng aja si benernya. Abis di kantor lagi sepi. Marketingnya pd keluar semua. Yang ada cuma 1 penyiar yang lagi bertugas, ama aku doang. Abis itu aku duduk lagi di meja marketing.

Selang 1 jam, Ibu Ajeng udah nyampe lagi di studio. Waktu ngliat, Ibu Ajeng cantik sekali. Bajunya merah berkerah agak rendah dan memakai kulot. Aku langsung kesengsem abis. Ibu Ajeng ga langsung masuk ke rumah tapi mampir dulu ke studio. Melihatku duduk Ibu Ajeng bertanya apakah semua order iklan sudah selesai. Cerita Dewasa

Aku jawab aja udah. Kupikir abis nanyain Ibu Ajeng langsung masuk ke rumah eh ternyata malah nyamperin ke mejaku. Pas nyampe di depanku, Ibu Ajeng meletakkan sikunya di meja dan meraih majalah yang ada. Posisi tubuhnya membungkuk di depanku. Seketika gaunnya terbuka sehingga aku dengan jelas melihat payudaranya yang kecil terpampang di depan mataku.

Ya ampun, ternyata ada juga payudaranya. Tanpa ba bi bu, kontolku langsung berdiri. Pemandangan ini yang selalu kutunggu. Payudaranya masih tertutup beha putih tapi itu sudah cukup untuk membangkitkan kontolku.

"Marketingnya lagi keluar semua, Mas?"

Aku kaget bukan main mendengar pertanyaan itu. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena aku baru sadar kalo aku baru terbengong-bengong menyaksikan payudara istri bosku. Dan aku tau banget kalo Ibu Ajeng tau apa yang barusan aku lakukan. Aku malu setengah mati. Mukaku langsung terasa panas.

"Iya, Bu", jawabku cepat sambil mengalihkan pandanganku.

"Nanti, Pak Min ijin ga masuk. Mas Raka tolong bantuin beres-beres ruang siaran ya", katanya sambil menegakkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Aduh, Pak Min nih ijin melulu deh, umpatku dalam hati. Pak Min itu orang yang dipekerjakan untuk membereskan kantor, semacam OB gitu.

"Iya, Bu" jawabku lagi.

"Ya, udah. Ibu masuk dulu ya", katanya lagi sambil berlalu dengan tetap memberikan senyum. Kali ini aku benar-benar deg-degan. Takut kalau-kalau Ibu Ajeng berpikir untuk mendepakku dari perusahaan. Sekali dilaporin ke suaminya, habislah aku.

Ah biarin aja lah. Kalo emang dipecat ya tidur aja di kost. Hehehe... Yang lebih memenuhi kepalaku justru payudara Ibu Ajeng yang tadi kulihat. Sumpah, indah banget. Ingin sekali aku menelanjangi Ibu Ajeng dan mengulum puting payudaranya. Aku membayangkan apa kira2 warna puting payudaranya. Ahh... Memikirkannya aja aku udah ngaceng gini. Cerita Ngentot

Singkat cerita, malamnya aku lagi-lagi harus lembur nungguin penyiar terakhir kelar. Gara-gara Pak Min nih. Bete juga nungguin ampe tengah malem kalo ga ngapa-ngapain. Aku masuk lagi ke ruang produksi. Masang headphone di telingaku. Aku puter aja musik tahun 80an. Lumayanlah, musiknya agak melow-melow gitu jadinya asik di dengerin sambil ngantuk.

Kulirik jam tanganku, masih jam 11. Huh, masih 2 jam lagi. Lagu2 yang kuputar membuatku terbuai. Entah kenapa, bayangan payudara Ibu Ajeng tiba-tiba nyantol lagi di kepalaku. Tanpa bisa kutahan, senjataku segera mengacung memenuhi celanaku. Dudukku menjadi tidak tenang. Kuelus pelan senjataku yang masih terbalut celanaku.

Kuperhatikan sejenak situasi sekitarku. Lampu di ruanganku sudah sejak tadi kumatikan sehingga tidak ada yang tau kalo aku masih ada di situ. Kualihkan pandanganku ke ruang siaran. Mbak Rani, penyiar terakhir hari ini, masih bercuap-cuap aja di depan miknya. Cerita Sex HOT

Aman, pikirku. Kubuka retsleting celanaku dan segera kuturunkan sedikit celanaku. Otomatis senjataku yang dari tadi tersekap di dalam mengacung dengan gagahnya. Kukocok-kocok pelan kontolku sambil membayangkan payudara kecil Ibu Ajeng. Indah banget.

Pengen rasanya menyentuh, meremas, mengulum putingnya. Beberapa lama aku terpejam sambil tanganku tetap mengocok kontolku pelan. Aku bayangkan ibu Ajeng dengan rambutnya yang sebahu, bibirnya yang selalu merah. Aku ingin sekali bibir itu mengulum kontol. Sesekali aku mendesah sambil menyebut Ibu Ajeng. Akhh... Ibu Ajeng...

Tiba-tiba di kontolku ada benda lain yang menempel. Dan ketika kubuka mataku, kaget setengah mati karena ada tangan lain yang menyentuh kontolku. Dan lebih kaget lagi karena itu adalah tangan Ibu Ajeng yang sedang berjongkok di samping kursi yang aku duduki. Spontan aku segera melepas tanganku dan mencoba menarik celanaku. Tapi tangan ibu Ajeng yang satunya menahanku.

"Raka, biarian aja. Ibu juga pengen megang kok", katanya sambil tersenyum.

"Ma...maaf bu...", kataku terbata sambil tetep berusaha menarik celanaku.

"Raka, biarin aja", kata Bu Ajeng lagi.

"Sekarang mas Raka tetep duduk aja dan jawab pertanyaan ibu", perintahnya sambil tetep tangan kanannya menggenggam kontolku. Kagetku berangsur pulih, aku mengangguk sambil berusaha menenangkan diri.

Ibu Ajeng menggeser tubuhnya dan sekarang sudah berada tepat di depanku dalam posisi jongkok dengan tangannya tidak lepas dari kontolku. Aku merasakan nikmat yang luar biasa ketika tangannya dengan halus meremas kontolku. Cerita Sex Selingkuh

"Menurut kamu, ibu cantik ga", tanya ibu Ajeng dengan menatap mataku.

Aku bengong sesaat, tapi segera menganggukkan kepalaku.

"Ibu cantik", jawabku pendek. Mendengar jawabanku ibu Ajeng tersenyum kecil sambil memutar tangannya di kontol. Ahh... Sumpah rasanya luar biasa.

"Mas Raka jg ganteng", kata ibu Ajeng tapi kini tidak memandangku lagi. Matanya justru melihat ke kontolku. Aku berusaha sepenuhnya menguasai diriku. Tiba-tiba lidahnya menjulur dan menjilat bagian belakang kontolku dari pangkal sampai ke ujung. Oughh... Jilatannya menimbulkan sensasi yang luar biasa yang membuatku meregang menahan kenikmatan.

"dan, jangan panggil ibu lagi kecuali di depan bpk sama karyawan yang lain. Panggil aja Mbak. Ngerti!" sambungnya lagi.

"i...iya bu...Mbak", jawabku pendek.

Entah kenapa perasaan senang menyelimutiku. Dia adalah istri bosku. Gila neh! Dan lagi2 Mbak Ajeng menjilat kontolku pelan. Aku hanya diam saja menikmati sensasinya. Mbak Ajeng kemudian memasukkan kontolku lama ke dalam mulutnya.

Lama sekali ditahan di dalam mulutnya sebelum Mbak Ajeng menaikturunkan mulutnya. Aku diam saja karena tidak tau harus ngomong apa. Mbak Ajeng pun masih asik dengan kontolku di mulutnya. Sesekali bibirnya turun ke pelirku dan mengisap dengan kuat. Mimpiku jadi kenyataan.

Kulirik arlojiku, udah jam 24.40. Artinya 20 menit udah mau selesai siarannya. Aku agak panik karenanya. Tapi kenikmatan di kontolku mengubur habis kepanikanku. Mbak Ajeng masih terus menghisap kontolku. Dan tangan kanan kirinya sekarang menyusup di balik kemejaku, mengusap halus putingku. Cerita Mesum HOT

Segera saja aku melenguh keenakan. Aku tidak terlalu khawatir dengan suaraku karena ruang produksi di desain kedap suara. Perlahan aku mulai berani untuk bereaksi. Aku ulurkan tanganku untuk meraih kepalanya mencoba membelai rambutnya. Tapi ditepisnya tanganku. Akhirnya aku diam saja membiarkan Mbak Ajeng bermain dengan kontolku.

Payudaranya yang kecil menggesek pelan di kedua lutuntuku. Semakin lama Mbak Ajeng semakin cepat naik turun di kontolku. Dan aku merasa ada sesuatu yang mau keluar. Kedua tanganku mencengkeram pegangan kursi.

"Mbak... Sshh... Sshh... Mau kkeluar Mbak...", kataku setengah mendesis.

Mbak Ajeng terus saja menghisap kontolku. Sampai suatu saat aku tidak dapat lagi menahan dan muncratlah air maniku.

Crooottt... crooottt ... sshhh... ahhhh...

Pantatku sampai terangkat dr kursi karena kenikmatan. Banyak sekali mani yang kukeluarkan. Emang udah lama gak kukeluarin sih... Sekalinya keluar di mulutnya Mbak Ajeng. Gimana ga banyak coba... Kulihat Mbak Ajeng masih tetap mengulum kontolku dan menghisap semua mani yang ku keluarkan.

"Oh Mbak... Enak banget", desisku lagi. Mbak Ajeng menjilati kontolku sampai bersih. Rasanya geli banget. Setelah bersih, Mbak Ajeng berdiri dan melepas headphoneku. "Nanti kalo dah selesai beres2 jangan lupa taro kuncinya di rumah ya", bisiknya.

Aku hanya mengangguk pelan belum pulih dari kenikmatanku. Setelah Mbak Ajeng keluar dr ruanganku aku segera membereskan celanaku. Tanpa sempat mikir aku segera membereskan ruangan dan berjalan menuju ruang siar karena Rani pun sudah selesai siaran. Cerita Ngentot Tante

"Halo mas, loh mukanya kok merah gitu", sapa Rani sambil membereskan form request di meja.

"Hehehe... panas banget nih... AC ruang produksi lagi macet", jawabku sambil pura-pura membereskan mik. Pdhal aku grogi setengah mati takut ketauan boongnya.

"Oh... Ya udah mas. Aku balik dulu ya", kata Rani.

"Iya deh. Ati-ati ya...", sahuntuku cepat berharap Rani segera pulang.

Setelah, mematikan semua komputer dan lampu, segera ku kunci semua ruangan. Setelah itu aku naik ke lantai 2 untuk mematikan pemancar dan menyerahkan kunci studio. Ketika akan menyerahkan kunci studio, aku baru ingat kalo yang akan menerima kunci nanti adalah ibu Ajeng alias Mbak Ajeng. Karuan aja aku jadi deg-degan...

"Gerbang depan udah di kunci, mas", sebuah suara membuyarkan lamunanku.

"Belum Mbak", jawabku setengah berteriak. Celingukan aku mencari sumber suara. Rupanya Mbak Ajeng sudah tau kehadiranku.

"Dikunci dulu, trus ntar kuncinya bawa ke sini ya, mas!"

Sesaat aku bingung sambil berjalan turun menuju pintu gerbang. Pikiran kotor menyerbu otakku. Siapa tau Mbak Ajeng minta ditemenin. Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba neehhh... Bergegas aku mengunci pintu gerbang dan naik lagi menyerahkan kunci.

Sesampai di dalam rumah aku tidak menemukan siapa pun. Dimana Mbak Ajeng, pikirku. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Kosong juga. Wah, di mana nih. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap cemas. Kalo udah pd tidur ya aku pulang aja. Sampai aku dikejuntukan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggangku dari belakang.

"Malam ini temenin Mbak ya", terdengar bisikan di telingaku.

Tanpa basa-basi aku segera memutar tubuhku dan di depanku telah berdiri Mbak Ajeng dengan paras yang sangat cantik. Wajah Mbak Ajeng persis di depanku. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Ajeng. Terasa hangat di wajahku ketika Mbak Ajeng menghembuskan nafas. Aku benar-benar dibuat terpesona.

Mbak Ajeng sudah berganti pakaian dengan kimono warna pink. Matanya sayu menatapku. Entah keberanian dari mana yang mendorong wajahku sehingga bibirku mengecup lembut bibir Mbak Ajeng. Tidak ada perlawanan dari Mbak Ajeng.

Bibirku terus bermain di bibir Mbak Ajeng beberapa lama. Kurasakan tangan Mbak Ajeng meremas lembut kemejaku. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Ajeng. Kuusap perlahan punggungnya sambil terus memainkan bibirku. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Ajeng. Bibir Mbak Ajeng lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu.

Lidahku semakin liar bermain. Kuciumi lagi bibirnya, hidungnya, matanya, keningnya, pipinya, dagunya. Dan semuanya terasa lembut. Napas Mbak Ajeng semakin memburu. Tanganku bergerak ke bawah mencari2 tali kimono. Setelah ketemu, kuloloskan talinya pelan. Ketika berhasil kulepaskan, kimono tersebut merosot sedikit menjuntai ke lantai.

Kumundurkan tubuhku dan nampaklah pemandangan yang sangat indah yang sering kubayangkan selama ini. Mbak sudah tidak memakai bra dan celana dalam. Payudara yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku kini terpampang jelas di hadapanku. Tampak puting yang kecil berwarna coklat dan merah muda pd ujungnya. Bener-bener sesuai ama yang kuharapkan. Payudaranya kecil, mungkin ukuran 34a. Tapi aku suka banget ama yang segitu.

"Raka Kenapa berhenti?", ucapnya lirih seraya matanya yang sayu memandangku.

Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Ajeng dan berlutut di depannya. Aku membungkuk dan mencium lembut jari kaki sebelah kirinya sementara tangan kananku membelai lembut betis kanan Mbak Ajeng. Yang kudengar saat itu hanya lenguhan nikmat dari Mbak Ajeng.

Kudongakkan kepalaku menatap Mbak Ajeng. Mbak Ajeng hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Kuarahkan perhatianku lagi ke bawah. Kuciumi lagi kaki kiri dan kanan berganti sementara tanganku mengusap lembut betisnya. Mbak Ajeng terus mendesis sampai suatu saat Mbak Ajeng hampir terduduk karena menahan kenikmatan dari ciuman dan belaian di betisnya.

Aku bangkit dan kusandarkan tubuh Mbak Ajeng di tembok dapur dengan posisi tubuh berdiri. Aku berlutut lagi dan kini yang menjadi sasaranku adalah pahanya. Kuciumi pelan paha kanan Mbak Ajeng. Tangan kanan Mbak Ajeng mencengkeram tembok. Kuciumi terus mulai dr atas lutut sampai mendekati pangkal pahanya.

Tercium aroma yang membuatku semakin mabuk asmara ketika menciumi sekitar pangkal paha. Mbak Ajeng berusaha mengatupkan pahanya tapi aku menahannya dengan kedua tangan supaya tetap terbuka. Ciumanku pindah ke paha yang kiri sementara tangan kananku bergerak ke atas ke wilayah perut dan mengusap pelan dengan ujung jariku. Mbak Ajeng semakin mendesis tidak karuan.

"Oh... Mas... Shh... sh..."

Ciumanku terus naik mendekati pangkal pahanya. Dengan gerakan sedikit menyentak kurenggangkan lagi paha Mbak Ajeng.

Oughhh... Mbak Ajeng melenguh panjang menerima perlakuanku yang tiba2. Kupandangi sejenak gundukan di depanku. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. Sambil tetap memegangi kedua lutut Mbak Ajeng, kujulurkan hidungku menyapu jembutnya. Tubuh Mbak Ajeng bergetar menerima sapuan hidungku. Tampak samar belahan daging dan kucoba menjilat pelan membelah hutan jembut yang lebat itu.

"Ouhh... Mas...", tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. Lidahku terus menjilat mencari-cari daging nikmat. Kurasakan ada cairan menempel dilidahku. Gurih terasa di muluntuku. Muluntuku pun mulai menghisap gundukan indah Mbak Ajeng.

"oh... Sshh... Sshh... Mas... enak banget mas...", desah Mbak Ajeng. Desahan itu membuatku semakin ganas. Kontolku sudah tegang dari tadi tapi aku masih ingin bermain dengan Mbak Ajeng. Hisapanku di memek Mbak Ajeng semakin liar. Sementara Mbak Ajeng meliuk-liuk menerima serangan di memeknya.

"mas.. Kamu kok pinter banget sih...", kata Mbak Ajeng manja. Aku hanya tersenyum aja mendengarnya.
Perlahan ciumanku naik ke perut Mbak Ajeng. Tidak lama di situ aku berniat untuk langsung menyerbu tetek Mbak Ajeng. Aku segera bangkit. Kupandangi sejenak tetek Mbak Ajeng yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali.

Lalu kupandangi wajah Mbak Ajeng, titik2 keringat bermunculan di keningnya. Kumajukan wajahku ke arah tetek Mbak Ajeng, tanpa mengalihkan pandangan dari matanya. Sampai di tetek yang sebelah kiri kukecup pelan putingnya. Mbak Ajeng mendongakkan wajahnya menerima sensasi kecil di putingnya. Kukulum puting tetek kiri Mbak Ajeng. Terasa hangat di dalam muluntuku. Mbak mulai mendesis lagi.

"terusin mas... terusin",

Aku semakin gencar mengulum puting tetek Mbak Ajeng. Sesekali kusedot dengan keras.

"Ahh.!" Mbak Ajeng berteriak kecil.

Aku melirik ke tetek yang sebelah kanan. Segera kuarahkan bibirku ke puting kanan. Perlakuanku beda kali ini. Aku menyerbu tetek kanan Mbak Ajeng dengan sangat liar sementara tangan kananku meremas-remas dengan kuat tetek yang kiri.

Menerima perlakuanku yang berubah drastis, Mbak Ajeng berteriak keras dengan menggoyangkan kepalanya kiri kanan. Keliaranku itu bertahan selama 10 menitan sementara kontolku sengaja kugesek-gesekkan ke memek Mbak Ajeng.

Mbak Ajeng terus menerus meracau. Tidak jelas apa yang diucapkan. Aku sudah tidak tahan lagi. Segera kubalik tubuh Mbak Ajeng kupaksa untuk menungging. Mbak Ajeng menahan tubuhnya dengan tangan di tembok. Kuarahkan kontolku ke memek Mbak Ajeng.

Pelan aku coba menerobos liang memek Mbak Ajeng. Agak susah juga mencari posisi lubang vagini Mbak Ajeng. Setelah beberapa saat akhirnya kontolku sudah berada dalam jepitan memek Mbak Ajeng.

"Mbak..." aku menahan sebentar kontolku. Mbak Ajeng melenguh panjang.

"ouhh...hss...mas..."

Aku segera menarik kontolku pelan sampai tersisa kepalanya dalam memeknya. Lalu kutusuk lagi dengan gerakan cepat. Mbak Ajeng lagi-lagi melenguh panjang. Kulakukan berulang kali sampai 15 menit. Tanpa berganti posisi aku percepat gerakanku.

Tanganku kubiarkan bebas menggantung. Kontolku terus kupacu di dalam memek Mbak Ajeng. Sampai suatu ketika tubuh Mbak Ajeng mengejang hebat dan Mbak Ajeng melolong hebat merasakan orgasme pertamanya.

Tubuh Mbak Ajeng masih bergetar beberapa saat. Aku harus menahan tubuhnya karena seperti mau terjatuh ke lantai. Sebenarnya aku juga sudah hampir sampai tapi sekuat tenaga aku bertahan. Aku tidak mau permainan ini cepat selesai.

Kudiamkan sebentar kontolku di dalam memek Mbak Ajeng dan membiarkan Mbak Ajeng mengatur napasnya, menikmati orgasmenya.

Beberapa saat kemudian, aku melanjuntukan lagi serbuanku ke memek Mbak Ajeng.

"Oh...uh...oh...uh", suara Mbak Ajeng keenakan.

"Mas, enak banget", tambahnya lagi. Tangan kirinya meraih tangan kiriku dan meletakkannya di teteknya. Spontan kuremas tetek Mbak Ajeng. Sensasi di dua wilayah sensitifnya membuatnya menggelinjang ga karuan.

Sodokanku di memeknya kupercepat sementara remasanku semakin kuat di teteknya. Akhirnya, aku mengeluarkan senjataku yang terakhir. Tangan kananku yang bebas kuarahkan ke lubang anusnya. Kuludahi anusnya dan kuusap keras bagian anus Mbak Ajeng.

Sekarang 3 bagian sensitifnya habis aku garap. Mbak Ajeng semakin melolong tidak karuan. Kepalanya terayun-ayun menambah keseksiannya. Badannya terus terguncang-guncang menerima sodokan kontolku. Aku pun mulai kacau merasakan sensasi di kontolku.

"Mbak, enak banget Mbak", cerocosku.

"heh...uh... terusin mas. Ahh..."

Jariku mencoba menerobos ke liang anus Mbak Ajeng. Aku tidak berani terlalu dalam. Takut menyakiti Mbak Ajeng. Kontolku masih terus menghunjam di memek Mbak Ajeng. Sampai akhirnya aku merasakan gelombang sangat kuat yang siap menerobos keluar dari kontolku.

"Mbak... Aku dah mo keluar Mbak... Mphhh..."

Iiiiyyaaaa maasss... mbak juga... aaayooo masss..."

Kupercepat gerakanku. Kontolku terus menerobos memek sampai akau tidak kuat lagi menahan gejolakku..

Croot...croot...croot... Ah... Ah... Ah...

Gerakan kontolku kuhentikan di dalam memek Mbak Ajeng. Dan tubuh Mbak Ajeng pun bergetar sangat hebat. Tangan kirinya mencengkeram tangan kiriku yang bermain di teteknya dengan sangat kuat.

"AHHH... DIMAAASSSSHHHHH", teriaknya memenuhi ruangan dapur.

Kujatuhkan kepalaku ke punggung Mbak Ajeng. Kutarik kontolku pelan-pelan, dan kuhunjamkan lagi ke dalam memek Mbak Ajeng tapi dengan gerakan yang sangat pelan. kedua tanganku meremas lembut tetek Mbak Ajeng. Nikmat banget. Sumpah nikmat banget. Kuciumi pelan punggung Mbak Ajeng sementara Mbak Ajeng masih berguncang-guncang menerima orgasmenya.

Setelah beberapa saat, aku tetap membiarkan kontolku bertahan di dalam memek Mbak Ajeng. Lalu, pelan-pelan kutarik kontolku. Mbak Ajeng melenguh merasakan gesekan pelan di memeknya.

"Mbak... Nikmat banget. Mbak cantik sekali", bisikku pelan.

"Raka... Kamu hebat. Hhh...mbak nggak ngira kamu mau ama mbak", katanya sambil membalikkan tubuhnya dan kini duduk terkulai lemas di lantai.

Aku tersenyum aja mendengarnya.

"Kapan-kapan, kalo mbak pengen, Raka mau ya nemenin Mbak lagi?"

"Mmmmm... Siap Mbak! Apapun buat Mbak!", jawabku sambil berkelakar.

Itu adalah kisah pertamaku dengan Mbak Ajeng, istri bosku. Setelah hari itu, selama empat hari aku nemenin Mbak Ajeng tiap malam. Ga jadi nyesel deh, Pak Min banyak ijinnya. Ijin terus aja Pak Miiinnn... Setiap bosku keluar kota aku selalu menemani Mbak Ajeng dan memberinya kepuasan. Demikian juga Mbak Ajeng memberiku pengalaman, dan sensasi-sensasi baru lainnya. Cerita Sex Selingkuh, Cerita Sex HOT, Cerita Mesum HOT, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex 2016, Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2016, Cerita Mesum, Cerita Mesum HOT, Cerita Mesum terbaru, Cerita Mesum 2016, Cerita Ngentot, Cerita Sex Ngentot, Cerita HOT Ngentot, Cerita Sex HOT.

Subscribe to receive free email updates: